image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu. Alfred Russel Wallace (1857) menjulukinya sebagai “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Kawasan Iklim

Iklim

Berdasarkan perhitungan data curah hujan yang dikumpulkan dari beberapa stasiun yang ada di sekitar kawasan taman nasional, ditemukan bahwa pada wilayah bagian Selatan terutama bagian yang berdekatan ibukota Kabupaten Maros, seperti Bantimurung termasuk ke dalam iklim D (Schmidt dan Ferguson) sedangkan Bengo-Bengo, Karaenta, Biseang Labboro, Tonasa dan Minasa Te’ne termasuk kedalam iklim tipe C, sementara pada bagian utara, terutama wilayah Kecamatan Camba dan Mallawa termasuk kedalam tipe B.

Peta curah hujan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memperlihatkan adanya empat zona curah hujan, yakni curah hujan 2.250 mm, 2.750 mm, 3.250 mm dan 3.750 mm. Curah hujan 2.250 mm sampai 2.750 mm berada dibagian timur kawasan taman nasional, dimana di wilayah inilah masyarakat banyak memanfaatkan kawasan hutan. Sebaliknya, curah hujan yang lebih tinggi yakni 3.250 mm sampai 3.750 mm, berada di bagian barat taman nasional dimana sekitar 75 % wilayah cakupannya merupakan arael karst. Di wilayah ini, pemanfaatan lahan oleh masyarakat dalam kawasan hutan relatif kecil karena kondisi tanah yang tidak memungkinkan. Sisanya 25 % yang berupa ekosistem non karst dan menyebar di bagian selatan, juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Tingginya pemanfaatan lahan areal taman nasional oleh masyarakat pada wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi, adalah merupakan ancaman terhadap sumberdaya lahan di wilayah taman nasional, terutama kaitannya dengan erosi tanah.