image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu. Alfred Russel Wallace (1857) menjulukinya sebagai “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Menteri LH Keluhkan Kerusakan Hutan

Areal bekas kebakaran hutan guna pembukaan lahan baru dengan melakukan penebangan terhadap hutan alam terus terjadi dan semakin meluas di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Rabu (25/11/2009) (TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDA)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengeluhkan kerusakan hutan di Indonesia. Menurut Hatta, laju kerusakan hutan di Indonesia masih belum sebanding dengan laju pemulihannya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dimana kita masih mengalami kejadian banjir dan longsor yang tidak hanya mengakibatkan kerugian ekonomi namun juga merenggut jiwa manusia.

"Laju kerusakan hutan masih belum sebanding dengan laju pemulihannya. Kerusakan hutan sekitar 0,7 juta hektar per tahun di Indonesia, sedangkan kemampuan pemulihan lahan yang telah rusak masih sekitar 0,5 juta hektar per tahun. Kerusakan tersebut mengurangi layanan hutan bagi kehidupan seperti menata siklus air, tempat beradanya keanekaragaman hayati dan memitigasi perubahan iklim," ujar Gusti pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

Gusti mengatakan, kerusakan hutan dan perubahan fungsi lahan memberikan kontribusi besar bagi memburuknya perubahan iklim di Indonesia. Ancaman kelestarian hutan perlu diantisipasi secara optimal dimana seluruh aktivitas pembangunan harus berwawasan lingkungan dan mengacu pada daya dukung, daya tampung serta pencadangan.

"Kita masih melihat kegiatan industri terutama pertambangan yang merusak lingkungan, masih maraknya pembalakan liar (illegal logging), konversi lahan untuk pemukiman dan perkebunan serta yang tidak kalah seriusnya adalah pembakaran hutan dan lahan," katanya.

Upaya-upaya pencegahan dan rehabilitasi hutan, sambung Gusti, masih terus ditingkatkan dan melibatkan semua komponen bangsa. Konversi lahan harus melihat aspek tata ruang melalui Kajian Lingkungan Hidup Strategis.

Gusti menambahkan, hal penting lain yang harus dilakukan adalah melanjutkan dan mengembangkan upaya penanaman dan pemeliharaan pohon seperti gerakan 1 miliar pohon seperti yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen dibawah kondisi business as usual tahun 2020, dimana kontribusi reduksi emisi dari sektor hutan dan lahan gambut sekitar 80 persen," katanya. Hindra Liu | I Made Asdhiana. (Sumber: www.kompas.com).