image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu. Alfred Russel Wallace (1857) menjulukinya sebagai “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.

Pengembangan Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung / Kamajaya Shagir.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah kawasan konservasi yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Sebagai taman nasional, TN Bantimurung Bulusaraung mengemban fungsi sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara lestari merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan pengelolaan kawasan konservasi. Bentuk pemanfaatan SDAH & E sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata alam menjadi trend upaya pemanfaatan yang diyakini akan lebih mampu menjaga kelestarian alam dibandingkan bentuk pemanfaatan kayu dan non kayu lainnya.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya pun mengamanatkan bahwa taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung telah sejak lama difungsikan sebagai objek tujuan wisata, bahkan taman wisata Bantimurung justru menjadi objek wisata andalan di Propinsi Sulawesi Selatan dan menjadi sumber Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) yang utama kedua bagi Kabupaten Maros setelah pertambangan. Julukan ‘The Kingdom of Butterfly”, fenomena air terjun di sela-sela tebing karst dan landscape karst yang fenomenal merupakan objek daya tarik wisata utama yang ditawarkan oleh lokasi wisata Bantimurung.

Tak terbatas pada potensi wisata Bantimurung, TN Bantimurung Bulusaraung masih memiliki potensi objek dan daya tarik wisata lainnya. Pattunuang, Bulusaraung, gua-gua alam, gua-gua prasejarah, terjalnya tebing karst, atraksi satwa Macaca maura di Karaenta, dan atraksi kupu-kupu yang merupakan flagship kawasan TN Bantimurung Bulusaraung serta sejumlah objek dan daya tarik wisata lainnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh sebagai lokasi wisata alam untuk menopang pendapatan dan devisa Negara. Penyelenggaraan wisata alam pun turut menyediakan alternatif matapencaharian baru dan peluang berusaha bagi masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan taman nasional. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk implementasi tanggung jawab Balai TN Bantimurung Bulusaraung dalam mengembangkan pemberdayaan daerah penyangga kawasannya.

Sejalan dengan tugas pokok dan fungsi taman nasional tersebut pula, maka Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam (PHKA) bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sepakat untuk menyelenggarakan percepatan pengembangan pariwisata alam di kawasan hutan konservasi yang difokuskan di 5 (lima) kawasan taman nasional, satu diantaranya adalah TN Bantimurung Bulusaraung. TN Bantimurung Bulusaraung pun kini diarahkan menjadi salah satu Satuan Kerja di bidang PHKA yang akan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, dengan salah satu kegiatan utamanya adalah pelayanan publik pada pemanfaatan wisata alam dan jasa lingkungan.

Mengemban amanat tersebut, maka perlu disusun perangkat perencanaan pengembangan wisata pada TN Bantimurung Bulusaraung yang sinergis dan terintegrasi dalam pembangunan regional dan nasional. Suatu perencanaan yang diarahkan pada upaya pendayagunaan potensi obyek wisata alam dengan tetap memperhatikan prinsip keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan pelestarian alam.

Air Terjun Bantimurung / Rana Pipiens.

PENGELOLAAN WISATA SAAT INI

Pengelolaan pariwisata alam pada TN Bantimurung Bulusaraung belum terkelola sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Kawasan wisata Bantimurung yang merupakan primadona wisata di Propinsi Sulawesi Selatan pada saat ini masih dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Maros, pun objek wisata budaya, Taman Prasejarah Leang-leang. Hal yang sama terjadi di kawasan wisata Leang Lonrong yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Pangkep. Padahal ketiga objek wisata tersebut termasuk ke dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.

Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, pengelolaan wisata di kawasan konservasi tidak dapat dilakukan langsung oleh Pemerintah daerah, namun ijin pengelolaan pariwisata alam dapat diberikan kepada BUMD/BUMN, koperasi, perseorangan atau swasta. Begitu pula aturan atas kewajiban setoran PNBP dari kegiatan pemanfaatan wisata dan jasa lingkungan belum dapat direalsasikan.

Hingga saat ini, belum ada solusi terbaik dalam penertiban dan penataan pengelolaan objek wisata tersebut, mengingat kawasan wisata ini merupakan sumber PAD Kabupaten Maros terbesar kedua setelah pertambangan. Upaya koordinasi dengan pihak pengelola belum berjalan dengan efektif sehingga belum menemukan solusi yang disepakati dan diterima oleh semua pihak. Beberapa alternatif solusi telah diajukan, antara lain:

  1. Pengelolaan kawasan wisata Bantimurung (yaitu kawasan yang dikuasai Pemda Kab. Maros dan kawasan yang masuk taman nasional) dilakukan bersama-sama, dengan cara meminta ijin terlebih dahulu kepada Menteri Kehutanan dan diperkuat dengan Perda yang dikelola oleh Badan Pengelola yang dikontrol bersama-sama;
  2. TN Bantimurung Bulusaraung mengelola kawasan yang ada di dalam kawasannya, dan Pemerintah Kab. Maros mengelola kawasan yang ada di luar taman nasional;
  3. Melalui BUMD Pemda Maros mengajukan ijin pengelolaan  pariwisata alam kepada menteri kehutanan dengan luasan tertentu dengan konsekuensi harus membayar iuran pengusahaan pariwisata sejumlah luas kawasan yang diusahakan;
  4. Mengeluarkan Iuran Hasil Usaha Pariwisata Alam (IHUPA) sebesar 10% setiap bulannya dari keuntungan bersih tahun anggaran yang bersangkutan sebagai setoran kas negara (hasil kas negara ini juga akan dibagi lagi ke Kabupaten Maros berupa Dana Alokasi Umum/DAU); atau
  5. Menambahkan biaya pada pungutan masuk sebesar Rp 2.500,-/orang (sesuai PP No. 52 Tahun 1998) untuk kas Negara; atau
  6. TN Bantimurung Bulusaraung juga akan melakukan pengelolaan Bantimurung terhadap pengusahaan pariwisata tersebut disamping pengelolaan yang dilakukan oleh Pemda Kab. Maros selama ini.

 

Selain objek-objek wisata tersebut, pengelolaan wisata telah pula dilakukan di Blok Pattunuang yang merupakan ex-TWA Gua Pattunuang. Kegiatan wisata yang ditawarkan pada lokasi ini adalah wisata tirta dan wisata minat khusus, dimana para pelajar, mahasiswa dan pecinta alam biasa memanjat tebing dan camping di area ini. Pada lokasi ini telah disediakan fasilitas berupa jalan trail wisata sepanjang 3 km, shelter, pos jaga/loket karcis. Masih diperlukan penataan lokasi dan penambahan fasilitas wisata lainnya, terlebih jika akan dikembangkan menjadi salah satu objek wisata andalan TN Bantimurung Bulusaraung. Penataan jalan masuk ke dalam lokasi wisata perlu menjadi prioritas penanganan, agar kenyamanan pengunjung dapat lebih terjaga.

Disamping ke-empat objek wisata tersebut, kawasan TN Bantimurung Bulusaraung masih memiliki beragam potensi objek dan daya tarik wisata alam lainnya, namun beragam potensi tersebut belum dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan lebih lanjut, terkait adanya beberapa kendala yang mendasar. Adapun kendala yang dihadapi meliputi:

  1. Belum terselesaikannya penataan zonasi pada pengelolaan kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, sehingga pengembangan objek-objek wisata potensial belum dapat dilakukan.
  2. Beberapa objek wisata masih dikelola oleh pihak Pemerintah Daerah. Perlu ada solusi jalan tengah penertiban pengelolaan wisata, khususnya Taman Wisata Bantimurung;
  3. Informasi dan data potensi kawasan sebagai objek wisata belum tergali seluruhnya;
  4. Jumlah dan SDM yang berkualitas belum mencukupi kebutuhan, terutama tenaga interpreter yang menguasai materi dan guide wisata minat khusus yang benar-benar memahami alat dan kondisi lapangan;
  5. Sarana dan prasarana pendukung belum memadai. Antara lain, sarana interpretasi alam yang belum lengkap, terutama information center, alat peraga/display pendukung dan modul/silabus materi interpretsai alam dan pendidikan konservasi belum tersedia;
  6. Anggaran belanja yang masih sangat minim, sehingga alokasinya didasarkan pada prioritas dan urgensi kegiatan pengelolaan jangka pendek.

Kupu-kupu / Ryansan.

RENCANA PENGEMBANGAN WISATA

Kawasan TN Bantimurung Bulusaraung menjadi sarana rekreasi dan edukasi masyarakat, khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan adalah cermin keberhasilan seluruh komponen pengelola yang ada dalam mensinergikan segala kemampuannya, serta upaya keras yang telah dilakukan bagian pemasaran dalam memperkenalkan, membangun dan menjaga citra positif wisata Balai TN Bantimurung Bulusaraung di masyarakat termasuk didalamnya usaha-usaha dalam berbagai produk yang dihasilkan BTN Bantimurung Bulusaraung. Sejalan dengan rencana Balai TN Bantimurung Bulusaraung menuju penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, maka rencana dan arah pengembangan wisata TN Bantimurung Bulusaraung dalam 5 (lima) tahun ke dapan adalah sebagai berikut:

A. LOKASI PRIORITAS PENGEMBANGAN

TN Bantimurung Bulusaraung memiliki beragam potensi wisata alam yang bisa “dijual”sebagai objek kunjunan wisata. Namun dengan mempertimbangkan aspek aksesibilitas, keunikan, kelangkaan, dan daya tarik yang dimiliki oleh masing-masing objek, maka pengembangan wisata alam pada kawasan TN Bantimurung Bulusaraung diprioritaskan pada lokasi-lokasi sebagai berikut:

  1. Kompleks Wisata Bantimurung
  2. Bulusaraung
  3. Pattunuang
  4. Leang-leang
  5. Karaenta
  6. Leang Lonrong
  7. Gua alam dan tebing

 

B. RENCANA PENGEMBANGAN WISATA PER LOKASI

1. Kompleks Wisata Bantimurung

a. Taman Wisata Bantimurung

Objek wisata utama pada taman wisata Bantimurung adalah air terjun, sehingga kegiatan yang ditawarkan adalah wisata tirta. Di samping air terjun, terdapat pula objek wisata lain, yaitu gua alam dan atraksi satwa kupu-kupu yang berterbangan bebas di habitat aslinya. Bantimurung selama ini dikelola oleh Pemerintah Daerah Maros, sehingga fasilitas dan utilitas wisata telah dibangun sejak lama dan cukup memadai.

Adapun pengembangan wisata ke depan akan diarahkan pada pengembangan sarana dan prasarana untuk menunjang aktivitas wisata pada bagian atas air terjun (Danau Toakala dan Kassi Kebo), yang belum dikembangkan, padahal sudah banyak dikunjungi wisatawan. Efektifitas pengelolaan information centre yang ada pada blok Bantimurung ini pun akan lebih ditingkatkan efektifitas penggunaan dan pengelolaannya. Fasilitas ini diarahkan agar dapat diakses bebas oleh wisatawan yang membutuhkan informasi terkait objek-objek wisata, potensi kenekaragaman hayati dan ekosistemnya dan segala hal terkait pengelolaan wisata dan kawasan TN Bantimurung Bulusaraung pada umunya.

Diversifikasi kegiatan dan layanan pengunjung juga menjadi salah satu kegiatan pengembangan wisata. Jika selama ini kegiatan wisata hanya terbatas pada wisata massal dengan aktivitas wisata tirta, sight seeing dan caving wisata, maka perlu dikembangkan layanan lainnya berupa kegiatan outbound dan layanan interpretasi atau pemanduan pengunjung. Kegiatan ini ditujukan sebagai upaya penyampaian dan penyadar-tahuan konservasi kepada masyarakat luas. Untuk pengembangan tersebut dibutuhkan adanya papan-papan informasi/interpretasi lingkungan.

b. Penangkaran kupu-kupu

Kupu-kupu merupakan ikon Bantimurung yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Karena tingginya keanekaragaman dan populasi kupu-kupu pada wilayah ini, Wallace bahkan pernah menjulukinya sebagai ”The Kingdom of Butterfly”. Julukan ini mengindikasikan betapa kawasan Bantimurung kaya akan keanekaragaman jenis kupu-kupu, yang tentunya didukung oleh kelestarian lingkungan. Karenanya tak heran jika Balai TN Bantimurung Bulusaraung bertekad untuk mengembalikan kejayaan “kerajaan kupu-kupu” yang sempat pudar tersebut. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan membangun penangkaran kupu-kupu. Saat ini, telah dikelola penangkaran kupu-kupu yang dilengkapi dengan laboratorium mini, namun masih dalam ukuran dan kapasitas dan kelengkapan utilitas yang sangat minim.

Untuk menunjang kepentingan pelestarian kupu-kupu tersebut, pengembangan penangkaran kupu-kupu akan diawali dengan pembangunan dome kupu-kupu dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar. Mengingat kupu-kupu adalah flagship TN Bantimurung Bulusaraung, maka di harapkan penangkaran kupu-kupu yang akan dikembangkan adalah yang terlengkap dan terbesar -paling tidak- di Indonesia.

Peralatan dan perlengkapan penunjang penangkaran pun harus disediakan, antara lain laboratorium, ruang display, sarana interpretasi, gerbang dan pagar pengaman, serta fasilitas dan utilitas penunjang lainnya. Lebih jauh, rencana pengembangan dan pembangunan penangkaran kupu-kupu harus dituangkan dalam rencana tapak (siteplan) penangkaran yang lebih detail.

Penangkaran kupu-kupu pun harus diberdayakan sebagai salah satu sarana edukasi masyarakat. Pengunjung diupayakan agar dapat menerima informasi dan penjelasan terkait kupu-kupu dan upaya konservasinya dengan berkunjung ke penangkaran tersebut. Untuk itu adanya sarana penyampaian informasi (papan informasi/interpretasi, ruang display, dll) dan ketersediaan petugas interpreter sangat dibutuhkan.

Sumber Daya Manusia juga menjadi faktor yang sangat penting untuk menjalankan operasional penangkaran secara profesional, baik dalam manajemen, pengembangan, maupun interpretasi dan pemanduan pengunjung. Peningkatan kapasitas SDM dapat ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan, studi banding, magang.

Gua Alam / APS.

2. Bulusaraung

Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendakian para pecinta alam lokal. Gunung ini tidak terlalu tinggi dengan jalur pendakian yang tidak pula terlalu terjal. Kegiatan yang diselenggarakan adalah hill walking dan sigth seeing. panorama bentang lahan karst Maros-Pangkep dapat dengan jelas dinikmati dari puncak gunung ini.

Untuk menunjang pengembangan wisata minat khusus (hill walking, sigth seeing), diperlukan fasilitas dan utilitas wisata. Sepanjang jalur pendakian yang terbagi atas 10 pos pendakian, telah tersedia 5 (lima) pos pendakian berupa shelter. Dengan demikian masih diperlukan pembangunan fasilitas shelter yang sama di 5 (lima) pos pendakian lagi.

Dari ke-sepuluh pos pendakian, pos 9 yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para pendaki sebelum mencapai puncak (pos 10). Pos ini cukup landai dan luas serta terdapat mata air yang dapat diakses oleh pendaki dengan mudah. Sebagai camping ground, pada pos pendakian ini pun belum tersedia fasilitas dan utilitas apapun. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kenyamanan pendaki dan menjaga kebersihan lingkungan, maka perlu dibangun shelter, MCK, dan tempat pengolahan/pembakaran sampah. Untuk pengembangan lebih jauh, dapat juga disediakan pondok jaga atau pondok wisata yang dapat membantu menyediakan berbagai kebutuhan pendaki.

3. Pattunuang

Pattunuang telah lama dikenal dan dijadikan areal camping ground oleh para pecinta alam setempat. Pada lokasi ini juga biasa dilakukan aktivitas panjat tebing dan selusur gua di gua-gua yang ada di sekitarnya (Gua Ramadhan dan Gua Pattunuang). Untuk menunjang kegiatan-kegiatan tersebut, telah disediakan fasilitas MCK (2 unit), Shelter (6 unit), Jalan trail wisata, pos jaga/loket, penangkaran kupu-kupu (sudah tidak berfungsi), dan 1 pos jaga.

Fasilitas tersebut masih dipandang kurang, karena Pattunuang diarahkan menjadi objek wisata andalan TN Bantimurung Bulusaraung selain taman wisata Bantimurung, yang kini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Maros. Sebagaimana telah dirancang dalam dokumen Masterplan (Rencana Tapak) Pengembangan Wisata Pattunuang, maka akan dikembangkan untuk itu dibutuhkan pembangunan sarana dan prasarana wisata seperti Shelter, jembatan gantung, souvenir shop, cafetaria, information centre, MCK, jalan trail wisata, papan-papan informasi dan/atau interpretasi, serta fasilitas lainnya.

4. Leang-leang

Taman Prasejarah Leang-leang merupakan salah satu objek wisata budaya terkenal di Kab. Maros. Banyak peninggalan purbakala ditemukan pada gua-gua prasejarah di kawasan ini. Gua-gua prasejarah pada kawasan ini masuk ke dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, sedangkan pengembangan wisata berada di areal penggunaan lain milik Pemerintah Daerah Kab. Maros. Pengelolaan objek wisata ini dilakukan oleh BP3 Makassar bekerja sama dengan Pemda Maros. Ke depan perlu dilakukan penataan manajemen pengelolaan, dimana Balai TN Bantimurung Bulusaraung dituntut un-tuk lebih aktif berparti-sipasi dalam pengelo-laan gua prasejarah tersebut.

5. Karaenta

Karaenta dikenal sebagai habitat satwa Macaca maura pada kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Macaca maura yang hidup liar dapat dengan mudah dipanggil (dengan keahlian khusus) oleh petugas TN Bantimurung Bulusaraung. Atraksi satwa ini menjadi objek wisata yang cukup menarik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Mengingat Macaca maura adalah satwa liar yang biasa hidup bebas tanpa gangguan dan campur tangan manusia, maka pengembangan atraksi mereka sebagai objek wisata sangat terbatas. Kuantitas dan frekuensi kunjungan harus dibatasi dan diatur sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu kehidupan alami satwa liar ini. Untuk menjaga eksistensi dan kelestarian mereka, maka pengembangan fasilitas dan utilitas wisata pun sangat terbatas. Pada lokasi ini hanya akan dibangun shelter sebagai tempat istirahat para pengunjung dan jalan trail wisata untuk menunjang kenyamanan pengunjung menjelajah, menikmati dan menginterpretasi keanekaragaman hayati dan ekosistem pada blok Karaenta ini. Stasiun penelitian dan fasilitas parkir dapat dibangun di lokasi yang agak berjauhan dangan habitat Macaca Maura, agar tidak mengganggu aktivitas dan kehidupan satwa tersebut.

6. Leang Londrong

Leang Lonrong cukup dikenal sebagai lokasi wisata yang berada di Kabupaten Pangkep. Lokasi wisata ini memiliki variasi objek wisata yang cukup beragam. Aliran sungai di dalam gua beserta ornament-ornamennya didukung oleh lingkungan hutan dengan vegetasi dan satwa liar yang beragam, menjadikan lokasi ini sangat menarik untuk dikembangkan. Beberapa aktivitas wisata yang dapat dilakukan di lokasi ini adalah trecking, wisata tirta, susur gua, animal watching, maupun wisata pendidikan.

7. Gua Alam dan Tebing

Gua merupakan objek yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata minat khusus. Sebagaimana umumnya kawasan karst, kawasan TN Bantimurung Bulusaraung pun kaya akan gua-gua alam dengan ornamen unik dan khasnya. Bahkan karst Maros-Pangkep disebut-sebut sebagai kawasan karst yang paling terkenal di Indonesia karena lansekapnya yang spesifik dan ornamen gua terindah.

Caving atau selusur gua dapat dilakukan di banyak tempat pada kawasan ekosistem karst TN Bantimurung Bulusaraung. Pada beberapa tempat dapat ditemukan gua yang mempunyai nilai arkeologis dan historis sehingga memungkinkan adanya kegiatan wisata, baik sebagai objek wisata minat khusus, maupun pengembangan kegiatan speleologi serta wisata budaya.

Karena kekhasan, keunikan, dan kerentanan sistem perguaan dan ornamen-ornamennya, maka pengembangan wisata gua sebagai wisata minat khusus dan wisata budaya sangatlah terbatas. Pengembangan fasilitas dan utilitas wisata tidak diperlukan, kecuali penyediaan papan informasi dan peringatan serta pagar pengaman pada tempat-tempat tertentu saja. Kuantitas dan frekuensi kunjungan pun harus dibatasi dan diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu dan merusak ekosistem gua.

Seperti halnya gua, tebing yang bisa digunakan untuk kegiatan panjat tebing harus memperhatikan kekuatan dinding karst. Hanya dinding karst masiv yang dapat digunakan untuk kegiatan ektrem tersebut.

Gua-gua dan tebing yang akan dikembangkan untuk kegiatan wisata dan jasa lingkungan akan ditentukan dan dibatasi oleh zonasi TN Bantimurung Bulusaraung.

Macaca maura / Kamajaya Shagir.

PENGEMBANGAN JENIS LAYANAN /KEGIATAN

1. Program Kegiatan Inti

Sebagai lokasi tujuan wisata, core product atau produk inti yang dilaksanakan oleh BTN Babul adalah menyelenggarakan pelayanan pada pengunjung yang melakukan wisata, baik wisata alam maupun wisata minat khusus. Kegiatan ini terutama berupa penjagaan loket masuk dan pengamanan pengunjung.

2. Jenis Layanan

Jenis layanan yang dikelola dan dipasarkan kepada masyarakat meliputi yaitu:

a. Layanan Wisata Alam yaitu penyediaan jasa layanan pendampingan dan pemanduan serta layanan lainnya pada wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, yang melakukan aktivitas wisata di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung

b. Layanan Wisata Minat Khusus yaitu penyediaan jasa layanan pendampingan dan pemanduan serta penyediaan fasilitas wisata yang membutuhkan keahlian dan/atau peralatan khusus, antara lain:

  1. Penelusuran gua (caving) yang dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu penelusuran gua horisontal yang tidak membutuhkan peralatan bantuan khusus dan penelusuran gua vertikal yang harus menggunakan peralatan khusus seperti Single Rope Technique (SRT) set. Secara umum kegiatan ini membutuhkan perlengkapan lapangan yang mampu menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan perjalanan penelusuran gua. Pada penelusuran gua dibutuhkan pemandu yang memiliki keahlian penelusuran gua dan teknik rescue di dalam gua serta kemampuan interpretasi dan pengetahuan dasar tentang gua. Petualang-petualang dan peminat jelajah gua kini sudah kian banyak, terlebih di kalangan pemuda khususnya pecinta alam.
  2. Panjat tebing (rock climbing) merupakan kegiatan yang membutuhkan peralatan khusus. Seperti halnya penelusuran gua, kegiatan panjat tebing juga membutuhkan tenaga pemandu yang cakap dan menguasai teknik panjat tebing serta teknik rescue-nya. Peminat kegiatan ini datang dari kalangan pemuda dan pecinta alam.
  3. Jelajah hutan (trecking) membutuhkan pemandu yang menguasai medan dan memiliki kecakapan interpretasi serta kemampuan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Pembuatan jalur treking dengan berbagai rute perlu dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pengunjung. Peminat kegiatan ini cukup banyak dan meliputi berbagai kalangan, karena pada dasarnya kegiatan ini bisa dilakukan oleh setiap orang, hanya rutenya yang harus disesuaikan.
  4. Pengamatan burung (Bird watching) merupakan kegiatan minat khusus yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan akan burung yang terbang bebas di alam. Selama ini kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, terutama di daerah Pattunuang dan Karaenta telah difungsikan untuk kegiatan ini, pelaku wisata ini berasal dari luar Sulawesi, bahkan mayoritas adalah wisatawan mancanegara yang diajak oleh travel agent.

 

c. Layanan Pendidikan Konservasi adalah penyelenggaraan kegiatan wisata belajar sambil bermain dan/atau serangkai dengan kegiatan outbound dengan muatan pendidikan konservasi melalui kegiatan interpretasi alam dan lingkungan dalam rangka penyadar-tahuan tentang konservasi alam dan kelestarian lingkungan, terutama terkait konservasi kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Kegiatannya dikemas dalam paket-paket wisata berupa kunjungan ke sekolah (school-visit), kunjungan ke lokasi (site visit), jungle camp, out bound, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pendidikan konservasi.

d. Layanan Lainnya yaitu penyediaan jasa layanan lain untuk mendukung kelancaran, kenyamanan dan keamanan kegiatan wisata. Layanan ini antara lain berupa jasa penyewaan fasilitas dan utilitas wisata, khususnya untuk kegiatan wisata minat khusus dan penyelenggaraan kegiatan (event orginizer) yang dilaksanakan di dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.

ARAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN

Dalam rangka meningkatkan jumlah dan layanan pengunjung dari tahun ke tahun, BTN Babul secara berkesinambungan meningkatkan kualitas dan kuantitas peragaan/program dan SDM-nya sesuai dengan perkembangan animo wisata masyarakat yang kian beragam. Upaya-upaya yang dilakukan BTN Babul untuk kegiatan pengembangan adalah sebagai berikut :

1. Pemantapan persiapan dan perencanaan pengembangan wisata

Perencanaan merupakan langkah awal dalam setiap pelaksanaan kegiatan. Dalam pengembangan wisata BTN Bantimurung Bulusaraung perlu disediakan beberapa perangkat perencanaan, termasuk didalamnya identifikasi dan analisa objek wisata alam yang potensial untuk dikembangkan, serta penguatan data base SDA & E sebagai bahan dan data dalam analisa pengembangan wisata alam lebih lanjut. Rencana pengembangan wisata harus didokumentasikan dalam bentuk Rencana pengembangan Pariwisata Alam (RPPA) pada kawasan TN Bantimurung Bulusaraung yang disinergiskan dengan rencana pengelolaan TN Bantimurung Bulusaraung, dan Rencana Detail Tata Ruang (RTRW/RTRWK), serta Rencana Induk Pariwisata Daerah.

2. Penataan dan penertiban pengelolaan wisata

Beberapa objek wisata alam pada TN Bantimurung Bulusaraung masih dikelola oleh pihak-pihak di luar Balai TN Bantimurung Bulusaraung, seperti misalnya Taman Wisata Bantimurung dan Taman Purbakala Leang-leang yang masih dikelola oleh Pemerintah Daerah Maros. Padahal Taman wisata Bantimurung mampu menyuplai PAD yang cukup besar, yaitu sekitar ± Rp. 3 Milyar pertahunnya.

Peningkatan efektivitas pengelolaan wisata di unit-unit wisata lainnya (Divisi Unit Leng Lonrong, Bulusaraung, Pattunuang dan Karaenta serta Divisi unit Wisata Minat khusus) pun akan terus dilakukan, terutama penertiban penarikan retribusi dan pengelolaan pengunjung.

3. Pengembangan pelayanan dan diversifikasi produk wisata

Pelayanan wisata yang telah diselenggarakan TN Bantimurung Bulusaraung meliputi pelayanan penerbitan SIMAKSI, penjagaan loket masuk dan penarikan retribusi masuk kawasan konservasi, pendampingan wisata minat khusus, dan pengamanan kegiatan wisata. Ke depan, pengembangan dan diversifikasi produk layanan wisata diarahkan pada peningkatan kualitas layanan dan pengembangan paket-paket wisata yang harus diiringi oleh keahlian dan keterampilan interpretasi dan pendampingan pengunjung.

TN Bantimurung Bulusaraung memiliki potensi alam yang beragam yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata, baik wisata alam maupun wisata minat khusus. Dengan mengkombinasikan antara kecenderungan dan minat wisatawan dengan potensi-potensi alam yang dimiliki, maka paket-paket wisata yang dapat ditawarkan akan kian beragam.

4. Pengembangan sarana dan prasarana wisata.

Pengembangan wisata harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang aman, nyaman dan memadai. Kenyamanan dan kepuasan pengunjung atas keindahan objek wisata alam yang ditawarkan dan kelengkapan dan kenyamanan fasilitas wisata akan mempengaruhi kecenderungan minat wisatawan untuk kembali.

Kelengkapan utilitas wisata, terutama wisata minat khusus, akan memberi nilai tambah dan mempengaruhi nilai ‘jual’ kawasan sebagai objek wisata alam yang layak dikunjungi, misalnya ketersediaan peralatan penelusuran gua bagi para caver, baik amati maupun profesional, peralatan camping, peralatan climbing,  dan peralatan khusus lainnya.

5. Pengembangan SDM pengelolaan wisata

Profesionalisme petugas pengelola wisata, baik bagian administrasi maupun operasional harus terus ditingkatkan. Pada bagian administrasi diperlukan petugas yang cekatan, jujur, bertanggung jawab dan ahli dibidangnya, begitu pula tenaga interpreter dan pemandu wisata minat khusus harus menguasai objek-objek wisata hingga seluk beluknya dan memahami aspek keamanan (rescue dan/atau pertolongan pertama) dan kenyamanan wisatawan.

6. Pengembangan Promosi

Secara umum promosi wisata dilaksanakan dengan menyebarkan informasi melalui media massa (baik cetak maupun elektronik), leaflet, booklet, maupun kegiatan pameran dan event-event khusus lainnya. Untuk meningkatkan promosi wisata dalam bentuk paket-paket wisata, perlu diintensifkan melalui kerja sama dengan travel agent atau biro perjalanan.

7. Monitoring dan Evaluasi

Agar pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan wisata alam tetap berjalan pada arah yang benar secara efektif dan efisien, dibutuhkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala. Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap segala aspek pengelolaan wisata dan setidaknya dilaksanakan setiap akhir atau awal tahun. Agar monitoring dan evaluasi dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan perangkat-perangkat lunak monitoring dan evaluasi. Salah satu perangkat yang layak untuk digunakan adalah adanya suatu kriteria dan indikator pengelolaan wisata yang efektif, yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu menggambarkan sejauhmana efektifitas pengelolaan dan pengembangan wisata telah dilakukan.

PENULIS: Dedi Asriady (KSPTN Wil. II Camba)