image image image
The Kingdom of Butterfly Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kaya akan jenis kupu-kupu. Alfred Russel Wallace (1857) menjulukinya sebagai “The Kingdom of Butterfly”.
The Spectacular Tower Karst Kawasan karst Maros-Pangkep terkenal dengan "tower karst"-nya, berupa bukit-bukit karst sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung.
The Adventurer Paradise Kawasan Karst Maros-Pangkep seluas ± 40.000 Ha merupakan kawasan karst terluas dan terindah kedua di dunia setelah Cina, dan seluas ± 20.000 ha menjadi bagian dari ± 43.750 ha kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan ini merupakan surga bagi para petualang.
Berita

Bantimurung, Kerajaan Kupu-kupu di Pegunungan Kapur

Kupu-kupu setengah jantan setengah betina. (BBC).

Kupu-kupu tidak hanya membantu manusia dalam proses penyerbukan tanaman. Jenis serangga bersayap indah dan cemerlang ini ternyata menjadi salah satu objek wisata yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan.

”Penangkaran kupu-kupu merupakan objek wisata yang paling terkenal di daerah kami,” kata Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sri Winenang, di sela-sela pameran ”Gelar Wisata dan Budaya Indonesia 2012”, di Mega Mall, kemarin.

Penangkaran kupu-kupu yang sudah didirikan sejak tahun 2005 tersebut, memiliki luas lahan sekitar 7.000 meter persegi di lahan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang membentang di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan. Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies kupu-kupu.

”Dari ratusan jenis kupu-kupu yang ada di Bantimurung, kami telah berhasil mengembangkan 8 jenis kupu-kupu langka yang dilindungi oleh pemerintah,” ujarnya lagi. Salah satunya adalah jenis kupu-kupu Chentosia Myrina, kupu-kupu Sulawesi yang telah dikenal seantero dunia.

Konon, mata air yang mengalir di antara celah-celah pegunungan karst/kapur Bantimurung memiliki banyak kandungan mineral yang sangat disukai oleh kupu-kupu. Maka tak heran bila kawasan tersebut dijuluki dengan ’the kingdom of butterfly’ (kerajaan kupu-kupu), karena banyaknya kupu-kupu di daerah ini.

Pegunungan Karst di Bantimurung yang memiliki luas sekitar 47.000 hektare ini merupakan pegunugan karst yang terbesar di dunia setelah China yang memiliki luas 100 ribu hektare.

Pada tahun 1856, Alfred Russel Wallace seorang pria berkebangsaan Inggris menemukan 256 jenis kupu-kupu di daerah tersebut. Diantara sekian banyak jenis kupu-kupu, 18 diantaranya adalah jenis kupu-kupu endemik yang hanya ditemukan di daerah Bantimurung.

Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang dikunjungi 800 ribu orang per tahun, ada kupu-kupu yang hanya muncul pada bulan-bulan tertentu. Misalnya Graphium androcles yang hanya dapat ditemukan pada bulan Agustus. Kemudian Papilio Blumei yang hanya berterbangan pada pada bulan Mei.

Uniknya lagi, di kawasan sejuk ini juga terdapat kupu-kupu ‘banci’. Kupu-kupu banci adalah kupu-kupu yang memiliki kelainan pada anggota tubuhnya. Ia memiliki bagian tubuh yang ada pada dua jenis kelaminnya. Contohnya, seekor kupu-kupu banci memiliki sayap kiri betina dan sayap kanan jantan. Sayap kupu-kupu jantan biasanya cenderung lebih berwarna-warni dibandingkan kupu-kupu betina yang kebanyakan gelap.

“Orang Jepang dan China kerap datang untuk melihat langsung kupu-kupu di Bantimurung,” tutur pria asal Solo ini. Kupu-kupu di sana memang boleh ditangkap, namun pada akhirnya harus dilepaskan kembali.

Kupu-kupu memiliki kehidupan yang cukup singkat, hanya sekitar 4 minggu. Sedangkan bila dihitung dari asalnya yang berupa ulat, ia bisa memiliki usia hingga 100 hari.

”Kupu-kupu terbesar di Batimurung adalah kupu-kupu raja yang memiliki lebar sayap sekitar 15 sentimeter. Kupu-kupu ini bisa hidup selama 6 minggu,” imbuhnya

Selain wisata kupu-kupu, ternyata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga memiliki berbagai potensi wisata. Diantaranya adalah Tarsius, primata terkecil di dunia. ”Ada gua terdalam di dunia ‘leang pute’ sedalam 275 meter,” ujar Sri Winenang sedikit berpromosi di stand-nya.  (Fenny Ambaratih, Batam) (58) (Sumber: www.batamspos.co.id)